MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah




Mata Mungil yang Menyimpan Dunia” cerpen karya Agus Noor ini merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen kompas pilihan 2005-2006 yang berjudul “Ripin”. Dilihat dari judulnya, cerpen ini seolah-olah ingin merefleksikan dunia melalui mata. Pengertian mata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima berarti indra untuk melihat; indra penglihat. Manusia memahami dan menikmati dunia dengan matanya. Menyimpannya dalam memori apa-apa saja yang tertangkap oleh mata. Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya.
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang bernama Gustaf  yang terobsesi dengan mata seorang bocah kecil berumur 12 tahun yang ia temui di jalan saat berangkat kerja. Gustaf menatap mata itu seolah-olah menjenguk dunia yang menyegarkan. Gustaf sedari kecil pun suka mengoleksi boneka dengan berbagai macam bentuk matanya, hal itu menjadikan orangtua Gustaf khawatir dengan kesehatan  jiwanya. Gustaf seringkali menatap mata orang-orang yang ia temui dan menggambarkannya. Singkat cerita, Gustaf sangat tertarik dengan mata anak kecil itu sehingga ia ingin memiliki matanya. Puncaknya, ia lalu mengambil mata anak kecil itu untuk mengganti matanya melalui jalan operasi. Ia ingin merasakan bagaimana memiliki mata yang menurutnya paling indah di dunia. Setelah ia memiliki mata indah itu, ia sangat yakin bahwa orang-orang yang melihatnya akan terkagum-kagum. Tetapi hal bertentangan terjadi, orang-orang justru melihatnya sebagai mata iblis. Hal itu terjadi karena Gustaf hanya menukar mata anak kecil itu, ia tidak mampu menukar perasaan anak kecil itu yang masih jernih dengan segala permasalahan. Ia memasang mata itu masih dengan perasaan yang dimilikinya, mendapatkan mata itupun secara paksa. Mata anak kecil yang mampu melihat dunia begitu indahnya, tidak bisa Gustaf miliki, terlebih dengan cara yang tidak berperikemanusiaan. Perasaan yang terefleksikan itulah yang dilihat oleh orang-orang yang melihat Gustaf.
Melalui cerpen ini, kita bisa menemukan  makna mata yang ingin digagas  oleh pengarang. Salah satu gagasannya  yaitu yang disampaikan oleh Oma Gustaf, “Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya….”
Pada cerpen ini pula, digambarkan secara eksplisit bahwa dunia yang dilihat oleh Gustaf adalah seindah-indah dunia. Dunia yang dimaksud disini adalah sesuatu yang ia tidak dapatkan pada kehidupannya, karena Gustaf sibuk dengan pekerjaan setiap harinya. Kehidupannya terbatas hanya pada apa-apa yang dilihatnya di kantor saja. Sehingga dunia secara luas tidak ia temui. Dunia yang dimaksud juga dengan kehidupan yang terbebas dari segala macam permasalahan yang memberatkan. Dunia yang muncul dalam mata anak kecil itu, adalah dunia dengan segala macam kebaikan yang ada. Yang menerima kehidupan secara ikhlas, sehingga memunculkan sinar yang memukau. Hal yang demikian itulah yang Gustaf tidak miliki, sehingga ia menginginkannya.
Latar tempat cerpen ini tersampaikan secara eksplisit, yaitu di kota metropolitan seperti Jakarta yang begitu banyak anak jalanan dan anak terlantar yang berkeliaran di jalan. Keadaan yang demikian sangat menyinggung realitas yang ada, dimana begitu banyak pengemis dan anak gelandangan serta terlantar di jalan-jalan kota besar. Gustaf hanya bisa menemukan gelandangan dan anak jalanan di kota besar.  Penerapan latar sesuai dengan tema yang diangkat. Penokohannya pun membentuk totalitas sehingga sesuai dengan plot.
Kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang sederhana, sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang tersampaikan dengan baik. Judulnya pun unik, sehingga mengundang pembaca untuk membacanya dan menikmatinya hingga akhir. Meski, ada beberapa unsur yang disampaikan secara eksplisit.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

gak selalu sama.. (cerpen)

Catatan di awal Juli