Pelajaran akhir-akhir ini


Yogyakarta, sebuah kota yang sudah hampir dua tahun aku singgahi. Tempat yang membuatku merasa nyaman dan berkembang. Beberapa hari terakhir, aku merasa banyak berpikir di tempat ini. Entahlah, apa aku sudah merasa tua dengan adanya mahasiswa-mahasiswa baru, ataupun memang sekarang aku sudah memahami kehidupan. Akhir-akhir ini aku dihadapkan dengan beberapa peristiwa yang tanpa aku tuntut terpikirkan dan menjadi sebuah topik yang aku bicarakan dengan diriku sendiri. Mungkin aku akan dikira berlebihan dalam menyikapi semua hal itu, padahal jika aku diskusikan hal-hal kecil itu dengan diriku sendiri itu membuatku begitu keras berpikir. Sekarang aku menyadari beberapa hal kecil yang dulu ternyata tidak pernah aku pikirkan. Tentang ucapan ulang tahun, tentang bagaimana orang menerima omongan orang lain, tentang sikap dan suasana hati yang berpengaruh terhadap orang lain, tentang bagaimana orang menerima kehidupannya, tentang bagaimana orang menghadapi segala peristiwa yang terjadi di hidupnya, tentang hal-hal sederhana yang sering kita lupakan ternyata begitu berharga di mata orang lain. Aku merasa aku tidak selalu punya solusi untuk semua hal yang diceritakan kepadaku, pun solusiku tidak akan benar-benar membantu keresahan dan kesedihan mereka. Aku hanya mencoba memahaminya, mengingat dalam hati, dan kemudian menjadi pembelajaran untuk diriku sendiri. Karena sebaik apapun solusi yang sudah aku usahakan, tidak akan berjalan dengan baik, jika orang yang menerima tidak punya karakter yang sesuai untuk  menjalani solusi yang aku berikan. Aku menyadari bahwa tiap orang harus diperlakukan berbeda sesuai dengan karakternya, kita juga harus memahami mereka. bukan membedakan sikap, hanya saja disesuaikan dengan karakter dan bagaimana penerimaannya. Oleh karena itu, aku sangat suka bertemu dengan orang-orang baru, dengan segala cerita baru yang membuatku terus mendapat pembelajaran yang baru pula.
Di tempat ini aku semakin menyadari bahwa tiap orang mempunyai porsi, versi, dan zona waktu masing-masing. Aku juga semakin belajar untuk menyingkirkan ego, yang ternyata begitu susah, Tuhan. Akhir-akhir ini aku sedang belajar memaklumi hal-hal kecil, berusaha memahami kesedihan dan kebahagian yang terkadang menurutku begitu sederhana. Ternyata memahami orang dari berbagai sudut begitu susah, Tuhan. Aku sering  larut dengan sikap egois, sikap keras kepala, yang tidak mau mendengarkan orang lain, yang gampang marah, yang nangis sendiri tanpa sebab, yang mudah benci, yang gampang menilai buruk orang lain hanya dari satu sudut pandang.
Namun Tuhan seolah memberi cinta-Nya melalui hal-hal yang aku pikirkan. Supaya aku bisa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang memanusiakan manusia ciptaan-Nya. Aku diingatkan kembali bahwa aku hidup bersama di bumi ini. Oleh sebab kita hidup bersama di bumi ini, kita harus punya rasa maklum dengan berbagai karakter. Kita harus belajar memahami apa-apa yang membuat orang lain tidak nyaman, bersedih, bahagia, hingga merasa terluka.
Mungkin beberapa di antara kita berpikiran bahwa kita sudah bersikap dan bertutur kata yang baik terhadap orang lain, tetapi bagaimana orang lain bersikap kepada kita tidak sesuai dengan harapan kita. Itu hal yang lumrah sebagai manusia, sangat lumrah, malahan aku tidak tahu kalau itu bisa dibilang baik atau tidak. Saat ini aku sedang  berusaha untuk memahami bahwa hal itu adalah egois. Bagaimana orang lain menilai aku salah atau benar, aku tidak begitu memikirkan. Aku sedang berusaha menanamkan pemikiran bahwa tugas kita di dunia ini adalah berbuat baik terhadap sesama, bersikap bijak dalam menjalani kehidupan, sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan. Bagaimana sikap orang lain terhadap kita, itu urusan mereka, bagaimana kita memperlakukan orang lain itu urusan kita dengan Tuhan. Semoga kita tidak dihadapkan pada kehidupan yang gampang berselisih. Semoga kita adalah orang-orang yang mudah memahami tanpa harus menghakimi.

Yogyakarta, 9 September 2018

Komentar