Postingan

Pelajaran akhir-akhir ini

Yogyakarta, sebuah kota yang sudah hampir dua tahun aku singgahi. Tempat yang membuatku merasa nyaman dan berkembang. Beberapa hari terakhir, aku merasa banyak berpikir di tempat ini. Entahlah, apa aku sudah merasa tua dengan adanya mahasiswa-mahasiswa baru, ataupun memang sekarang aku sudah memahami kehidupan. Akhir-akhir ini aku dihadapkan dengan beberapa peristiwa yang tanpa aku tuntut terpikirkan dan menjadi sebuah topik yang aku bicarakan dengan diriku sendiri. Mungkin aku akan dikira berlebihan dalam menyikapi semua hal itu, padahal jika aku diskusikan hal-hal kecil itu dengan diriku sendiri itu membuatku begitu keras berpikir. Sekarang aku menyadari beberapa hal kecil yang dulu ternyata tidak pernah aku pikirkan. Tentang ucapan ulang tahun, tentang bagaimana orang menerima omongan orang lain, tentang sikap dan suasana hati yang berpengaruh terhadap orang lain, tentang bagaimana orang menerima kehidupannya, tentang bagaimana orang menghadapi segala peristiwa yang terjadi di h...

Hari Pertama Pelatihan Tutor BIPA

Gambar
Keberangkatan aku ke Yogyakarta lebih cepat, selain untuk membantu panitia PAB UKM Penelitian, juga untuk menghadiri pelatihan tutor BIPA. Alhamdulillah aku terpilih menjadi salah satu tutor BIPA di UNY, yang dipegang oleh KUIK (Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan), salah satu mimpi yang pernah aku inginkan. Aku tidak menyangka itu bisa terwujud, meski belum sepenuhnya bertuggas, setidaknya posisi sebagai tutor bipa sudah aku dapatkan. Untuk mendapatkan posisi ini sebelumnya aku mengikuti seleksi. Mulai dari seleksi administrasi, cross culture understanding, micro teaching sampe buat rancangan pembelajaran, dan wawancara. Aku juga mengambil kosentrasi BIPA di jurusan kuliahku, sehingga saat seleksi ada sedikit kemudahan. Dari keberangkatan aku ke Yogyakarta hingga pelatihan hari ini berjarak duapuluhan hari. Aku berangkat ke Yogyakarta kalau gak salah tanggal 9 Juli. Oke langsung saja yah ke topik yang ingin aku bicarakan. Pelatihan BIPA pada tanggal 30 Juli dimulai tanggal 8 p...

Catatan di awal Juli

Hai.. Sebelum aku menuliskan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang masih mau bertahan denganku, yang masih mau menemaniku hingga kini tanpa harus meminta apapun yang ku tak punya. Terima kasih masih mau berada di sampingku, dengan segala sikap dan sifat buruk yang aku punya. Sungguh, aku menyayangi kalian, orang-orang yang memahami aku dan tetap di sampingku saat aku dalam keadaan apapun. Sebenarnya aku ingin menuliskan tentang keluh kesah, tentang segala ketakutan, tentang segalanya yang sedang aku rasakan. Tetapi kemudian aku berpikir, jika aku menuliskan itu lagi maka aku menyalahkan keadaan dan terlihat tidak pernah bersyukur. Sementara bercerita tentang keluh kesah sudah sering aku lakukan. Jadi begini, kemarin aku baru mendengar bahwa novel yang berjudul “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” akan difilmkan. Aku kaget sekaligus kembali mengingat pesan-pesan yang aku dapatkan dari novel itu. salah satu pesan yang aku dapatkan yaitu, segala sesuatu y...

Perempuan Senja

Langkai gontaimu melawan senja Melawan rute kepulangan sekawanan merpati Kulihat ada air menggenang di sana Di tempat yang kurasa paling teduh Pada matamu, aku begitu nyaman untuk tinggal Nyatanya.. Saat ini kau sedang menciptakan sungai tak bertepi di sana Kulihat langkahmu semakin gontai Seolah dipermainkan oleh bayangmu sendiri Seolah ingin mati Meski slalu kuingat bahwa senjamu slalu berarti Sekawanan merpati kembali ke rumah Melaksanakan pertemuan  dengan yang terkasih Meski tanpa dalil sekalipun Kulihat lagi kau sembunyikan tanganmu di saku Seandainya sebuah temu denganmu tanpa dalil Ingin ku tarik itu Dan kan kubiarkan bersemayam dalam genggamku Keeya Khaliqa 14 juni 2017

MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah

“ Mata Mungil yang Menyimpan Dunia ” cerpen karya Agus Noor ini merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen kompas pilihan 2005-2006 yang berjudul “Ripin”. Dilihat dari judulnya, cerpen ini seolah-olah ingin merefleksikan dunia melalui mata. Pengertian mata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima berarti indra untuk melihat; indra penglihat. Manusia memahami dan menikmati dunia dengan matanya. Menyimpannya dalam memori apa-apa saja yang tertangkap oleh mata. Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang bernama Gustaf   yang terobsesi dengan mata seorang bocah kecil berumur 12 tahun yang ia temui di jalan saat berangkat kerja. Gustaf menatap mata itu seolah-olah menjenguk dunia yang menyegarkan. Gustaf sedari kecil pun suka mengoleksi boneka dengan berbagai macam bentuk matanya, hal itu menjadikan orangtua Gustaf khawatir dengan kesehatan   jiwanya. Gustaf seringkali menatap mata orang-oran...

Pada Jarak

Pada jarak yang semakin sayang dengan kamu Hingga dia selalu membuat kita susah untuk bersua Lalu hanya bisa meratapi waktu Yang mampu menghantarkan kita pada rindu yang sama Tak perlu maaf diantara kita Atas perselisihan hari-hari kemarin Ternyata kita hanya butuh waktu untuk merasa baikan Kemudian semua akan kembali membaik Bukan aku mengharapkan kepastian Atas kepalaku dibahumu Tapi aku terlalu nyaman duduk bersamamu Meski bahumu selalu mengundang kepalaku untuk bersandar Tak apa, karena aku selalu menikmati itu Selalu menikmati ketika tanganmu selalu membelaiku