Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Aku hanya gadis 18 tahun

Gambar
Dunia ini penuh fantasi Penuh ingar bingar Penuh gemerlap lampu Dan tentunya, penuh dengan drama Mungkin aku telah memerankan beberapa karakter Namun, pada akhirnya aku akan kembali pulang Disebuah ruang kecil, dengan lampu yang temaram Ku terbaring diatas dipan Jiwa ini ingin kembali pada karakter anak kecil yang sudah tak pantas aku mainkan lagi Aku hanya gadis 18 tahun yang menghitung hari menuju angka selanjutnya Semoga, semoga aku bisa menemui angka angka selanjutnya Berat badanku tak pernah menetap pada satu angka Tinggiku pun mungkin tak ada perubahan Dan mungkin saja, sifatku masih sama seperti dulu Banyak orang bilang, Diusia 17 tahun, kau akan diberi kebebasan. Bagiku, hal itu hanyalah isapan jempol saja. Karena aku tak begitu Sudah hampir delapan bulan aku singgah diumur 18 Tiap kali aku berkaca, Benakku selalu bilang " aku bukan anak kecil lagi kan? " Orang bijak pernah berkata padaku, " tak apa jika sifatmu demikian. Yang penting jadi di...

Mereka ingin kesempatan kedua

Ada ingar bingar disini Tak ada senyum dari mereka yang berlalu lalang Bau obat dimana-mana Yang duduk terlunglai di kursi roda pun terus melintas Banyak tangisan terdengar Mungkin dari sebagian mereka takut akan jarum suntik Lengan-lengan mereka yang antri Terbalut sebuah lingkaran selotip, mungkin itu habis terkena jarum Ku coba tutup mata, mencoba lari dari pandangan penuh kerumunan Karena yang ku dengar, mereka berbondong datang untuk mendapat sentuhan dokter Dan mereka dibebaskan akan biaya Pantas saja, kali ini bahkan kursi panjang antri, sesak dengan orang. Mereka tak hanya mengistirahatkan tulang panggulnya Sebagian diantara mereka, mengistirahatkan kaki maupun kepalanya Ahh, mungkin ada segumpal virus yang menggerogoti bagian itu Ku perhatikan wajah mereka satu persatu.. Mereka ingin kesempatan kedua untuk sembuh Dan datangnya mereka ke tempat itu, mungkin akan memberikan kesempatan kedua untuk sembuh Wajah mereka tampak kerutannya Mata mereka bercahaya,,, ...

Pesanku untuk kita

Tak ada yang istimewa dari perkenalan kita, aku bahkan tak mengingat mengapa kita bisa kenal, kemudian saling menanyakan kabar. Semuanya terjadi begitu cepat. Seolah kamu yang bantu aku keluar dari hutan, saat aku tersesat disana. Seolah kamu yang bantu aku ke daratan saat aku tenggelam di laut lepas. Berlalu, kemudian timbul rasa khawatir. Sepertinya baru kemarin, kita mulai menyapa. Dan kini, kau jauh dariku. Ke kota   pendidikan untuk mengejar impian. Aku khawatir kau temukan yang lain kemudian melupakanku. Aku khawatir, barangkali ucapan setia dari mulutmu hanyalah sekedar ucapan. Barangkali kebersamaanmu dengan teman-teman yang sekarang, menyebar benih yang berpotensi untuk tumbuh dalam hatimu. Aku bukan cemburu, sayang. Aku hanya takut, karena yang namanya perasaan kadang tak bisa dikendalikan, meski kau sudah memagarinya dengan beton paling keras sekalipun. Akan banyak temanmu disana, mungkin banyak pula yang lebih dari aku. Aku tak menutup kemungkinan, bahwa kau ak...

Meski dianggap kisah klasik

Disaat sepi datang menghantui Hadirmu tawarkan obat merah untuk sembuhkan luka yang sempat memar Kita menyatu dalam sebuah cerita tentang hobi Tentang apa yang kita suka, dan tentang apa yang sedang kita jalani Kau membuatku bahagia, itu intinya Teringat pada satu hari,,, Saat kau duduk di meja terujung perpustakaan. Aku pun tak tau, makhluk ghaib apa yang berlindung di tubuhku hingga ia ingin mampir ke tempat tersunyi di sekolah. Meski sebelumnya kau asyik dengan bacaan ilmiah mu, dan aku asyik dengan bacaan humaniora ku Tiba-tiba saja, kita beradu dalam debat, kemudian  saling menasehati.. Ya seperti itu... Aku bahagia akan hal - hal sederhana yang kita lakukan bersama Aku ingat, bahwa saat itu adalah berangkat di akhir minggu, pun hari bebas. Karena akan ada ujian tertulis yang akan kita jalani. Andai saja, perpustakaan tak akan ditutup Mungkin kita sudah panjang lebar dengan cerita dan nasehat. Yang salah satu nasehat yang kau layangkan "intinya nanti kalo udah...

Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal

Kepada kamu yang membuat aku tenggelam dalam kebahagiaan Jangan buat aku semakin nyaman dalam sebuah keadaan Jika kau tak berniat membuat kita utuh dalam ikatan Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal... Enyahlah,,, Sebelum rasa nyaman itu semakin utuh Pun kemudian aku semakin rapuh Kepada kamu yang betah berlama-lama Tanpa pernah merasakan apa-apa Pergilah, untuk apa mencoba tinggal? Aku bukan ingin bermain Aku ingin menetap,,, Namun, jika tak bisa Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal. Hai kamu,,, Apakah kebersamaan kita Tak ada rasa apa-apa? Sementara pertahanan yang seringkali ku buat Kadang ia diragukan kekuatannya Oleh sebuah  perasaan yang tak mungkin terkendalikan. Namun hatimu, tentu punya pilihan. Dan aku selalu tawarkan satu dari sekian pilihan. Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal 2 Juli,  7:28 PM | iFat