Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Angka 19

Gambar
26 November 2016. Aku pikir akan berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Memasuki usia 19 tahun di kota kelahiran orang, aku pikir tidak ada yang spesial. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ada beberapa kejadian di hari itu. tanggal 26 November 2016, ternyata bertepatan juga dengan acara wisudha kampus. Dan mba kos ku ada yang wisudha, pagi itu aku menata hijabnya sebagai wisudawan, aku mempelajari beberapa tutorial hijab di channel youtube. Sungguh, ada kebanggan sendiri ketika aku menata hijab seorang wisudawan. Hari itu juga, aku ada study lapangan ke museum Sonobuduyo dan keraton Yogyakarta. Kunjungan ke tempat baru, pikirku. Meski aku sudah pernah ke Keraton Yogyakarta, tapi kali ini lain, bersama dengan teman-teman kampus dan memakai almamater biru sebagai pengenal. Di museum Sonobudoyo, aku baru pertama kali mengunjunginya. Di tempat ini   Kami mendapat guide, sehingga bisa menjelaskan apa saja yang ada di dalam museum itu. kali itu aku benar-benar mendengarkan, mun...

Bapak, aku rindu!

Pada kernyitan dahimu yang semakin terlihat Pada suaramu yang dulu terdengar keras, namun kini mulai melemah Ada yang tak pernah mampu ku ungkapkan dengan tindakan Kau bukan hanya mengajarkan bahwa segalanya memerlukan proses Kau juga ajarkan, bahwa aku harus menikmati proses Tak peduli jalan yang kulewati itu gelap dan sepi Nikmati saja... Pernah terasa hilang semangatku Ketika ku lihat kau menangis Katanya, kau meminta maaf belum bisa membuatku bahagia.. Pernah terasa hilang sebagian hidupku Ketika kau tergeletak sakit di ranjang tempat tidurku yang tak berpembatas tembok Namun, tetap mencoba memanggil namaku meski dengan rintihan Aku rindu, Duduk di belakang sadel sepeda bututmu Lalu diceritakan apapun yang ingin aku tanya.. Aku rindu, ketika kau selalu jelaskan gambar-gambar dari buku baru ku. Memberikan ilmu, yang bahkan jauh diatas umurku Katanya, agar aku paham untuk kedepannya... Bahkan dengan tanganmu sendiri Menyentuh tubuhku dengan keras Padahal untuk pin...

Kisah hari ini

Hari ini, Senin 29 Agustus. Aku memutuskan untuk ke daerah Parangtritis, tepatnya di desa Sempalan, untuk mencari belas kasih saudaraku akan biaya kosan yang sudah mulai ditagih, sementara danaku sudah  menipis, apalagi untuk cadangan makanku untuk beberapa minggu ke depan. Aku berangkat dari kosanku, di daerah Samirono, dekat rektorat kampus yang dulu bernama IKIP. Dari halte dekat rektorat, aku naik bus trans Yogyakarta, yang 2B arah stasiun Giwangan. Tak ada yang istimewa, hanya duduk dan diam, cuma ngerasa betapa beraninya aku. Perempuan seorang diri, belum paham jalan pula. Lalu bus 2B transit di smp 5 yogya, dilanjutkan naik bus 4A mengarah ke stasiun Giwangan. Pun tak ada yang istimewa di dalam bus ini.. Cukup lama di bus itu. Setelah sampai di stasiun, lain lagi ceritanya. Disini tanya" supir, bis yang arah parangtritis. Sampai akhirnya nemu, dan aku penmpang pertamanya. Ahh,,pasti akan lama nunggu. Benar juga dugaanku, hingga jam 1 lebih bus yang aku tunggu baru berang...

Aku hanya gadis 18 tahun

Gambar
Dunia ini penuh fantasi Penuh ingar bingar Penuh gemerlap lampu Dan tentunya, penuh dengan drama Mungkin aku telah memerankan beberapa karakter Namun, pada akhirnya aku akan kembali pulang Disebuah ruang kecil, dengan lampu yang temaram Ku terbaring diatas dipan Jiwa ini ingin kembali pada karakter anak kecil yang sudah tak pantas aku mainkan lagi Aku hanya gadis 18 tahun yang menghitung hari menuju angka selanjutnya Semoga, semoga aku bisa menemui angka angka selanjutnya Berat badanku tak pernah menetap pada satu angka Tinggiku pun mungkin tak ada perubahan Dan mungkin saja, sifatku masih sama seperti dulu Banyak orang bilang, Diusia 17 tahun, kau akan diberi kebebasan. Bagiku, hal itu hanyalah isapan jempol saja. Karena aku tak begitu Sudah hampir delapan bulan aku singgah diumur 18 Tiap kali aku berkaca, Benakku selalu bilang " aku bukan anak kecil lagi kan? " Orang bijak pernah berkata padaku, " tak apa jika sifatmu demikian. Yang penting jadi di...

Mereka ingin kesempatan kedua

Ada ingar bingar disini Tak ada senyum dari mereka yang berlalu lalang Bau obat dimana-mana Yang duduk terlunglai di kursi roda pun terus melintas Banyak tangisan terdengar Mungkin dari sebagian mereka takut akan jarum suntik Lengan-lengan mereka yang antri Terbalut sebuah lingkaran selotip, mungkin itu habis terkena jarum Ku coba tutup mata, mencoba lari dari pandangan penuh kerumunan Karena yang ku dengar, mereka berbondong datang untuk mendapat sentuhan dokter Dan mereka dibebaskan akan biaya Pantas saja, kali ini bahkan kursi panjang antri, sesak dengan orang. Mereka tak hanya mengistirahatkan tulang panggulnya Sebagian diantara mereka, mengistirahatkan kaki maupun kepalanya Ahh, mungkin ada segumpal virus yang menggerogoti bagian itu Ku perhatikan wajah mereka satu persatu.. Mereka ingin kesempatan kedua untuk sembuh Dan datangnya mereka ke tempat itu, mungkin akan memberikan kesempatan kedua untuk sembuh Wajah mereka tampak kerutannya Mata mereka bercahaya,,, ...

Pesanku untuk kita

Tak ada yang istimewa dari perkenalan kita, aku bahkan tak mengingat mengapa kita bisa kenal, kemudian saling menanyakan kabar. Semuanya terjadi begitu cepat. Seolah kamu yang bantu aku keluar dari hutan, saat aku tersesat disana. Seolah kamu yang bantu aku ke daratan saat aku tenggelam di laut lepas. Berlalu, kemudian timbul rasa khawatir. Sepertinya baru kemarin, kita mulai menyapa. Dan kini, kau jauh dariku. Ke kota   pendidikan untuk mengejar impian. Aku khawatir kau temukan yang lain kemudian melupakanku. Aku khawatir, barangkali ucapan setia dari mulutmu hanyalah sekedar ucapan. Barangkali kebersamaanmu dengan teman-teman yang sekarang, menyebar benih yang berpotensi untuk tumbuh dalam hatimu. Aku bukan cemburu, sayang. Aku hanya takut, karena yang namanya perasaan kadang tak bisa dikendalikan, meski kau sudah memagarinya dengan beton paling keras sekalipun. Akan banyak temanmu disana, mungkin banyak pula yang lebih dari aku. Aku tak menutup kemungkinan, bahwa kau ak...

Meski dianggap kisah klasik

Disaat sepi datang menghantui Hadirmu tawarkan obat merah untuk sembuhkan luka yang sempat memar Kita menyatu dalam sebuah cerita tentang hobi Tentang apa yang kita suka, dan tentang apa yang sedang kita jalani Kau membuatku bahagia, itu intinya Teringat pada satu hari,,, Saat kau duduk di meja terujung perpustakaan. Aku pun tak tau, makhluk ghaib apa yang berlindung di tubuhku hingga ia ingin mampir ke tempat tersunyi di sekolah. Meski sebelumnya kau asyik dengan bacaan ilmiah mu, dan aku asyik dengan bacaan humaniora ku Tiba-tiba saja, kita beradu dalam debat, kemudian  saling menasehati.. Ya seperti itu... Aku bahagia akan hal - hal sederhana yang kita lakukan bersama Aku ingat, bahwa saat itu adalah berangkat di akhir minggu, pun hari bebas. Karena akan ada ujian tertulis yang akan kita jalani. Andai saja, perpustakaan tak akan ditutup Mungkin kita sudah panjang lebar dengan cerita dan nasehat. Yang salah satu nasehat yang kau layangkan "intinya nanti kalo udah...

Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal

Kepada kamu yang membuat aku tenggelam dalam kebahagiaan Jangan buat aku semakin nyaman dalam sebuah keadaan Jika kau tak berniat membuat kita utuh dalam ikatan Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal... Enyahlah,,, Sebelum rasa nyaman itu semakin utuh Pun kemudian aku semakin rapuh Kepada kamu yang betah berlama-lama Tanpa pernah merasakan apa-apa Pergilah, untuk apa mencoba tinggal? Aku bukan ingin bermain Aku ingin menetap,,, Namun, jika tak bisa Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal. Hai kamu,,, Apakah kebersamaan kita Tak ada rasa apa-apa? Sementara pertahanan yang seringkali ku buat Kadang ia diragukan kekuatannya Oleh sebuah  perasaan yang tak mungkin terkendalikan. Namun hatimu, tentu punya pilihan. Dan aku selalu tawarkan satu dari sekian pilihan. Tinggalkan, jika memang ragu untuk tinggal 2 Juli,  7:28 PM | iFat

kurang lebih 3 tahun lalu

Barangkali diantara kita ada yang mengingat beberapa hal yang terlalu manis untuk dilupakan. Kurang dari tiga tahun lalu, misalnya. Kita masih menjadi siswa junior yang malu-malu dengan kakak kelas senior. Kita masih takut terhadap mereka, seolah-olah apa yang mereka katakan harus kita lakukan. iya, sekolah kita memang begitu adanya. Entah tradisi itu masih ada atau tidak untuk generasi selanjutnya, aku tak memahami hal itu. Baris-berbaris, hukuman, dan akan selalu ada kesalahan bagi junior dipandangan senior. Masih ingat tidak, kita berlari, terburu-buru saat makan, hanya untuk tepat waktu datang ke lapangan agar tidak mendapat hukuman. Kita diajarkan kesopanan, cara bertanya yang baik, hingga selalu ada omongan ketika kita lupa menerapkan hal itu. seolah-olah kesopanan sebagai makanan pokok yang harus kita makan. Dan kini, aku sadar…. Hal itu sangat berguna untuk masa yang akan datang!! Semua yang mereka lakukan bukan untuk hal yang sia-sia. Aku menyadarinya kini… Wa...

seperti obat

hidup begitu kejam seakan cambuk selalu terlepas menyisakan luka memerah meninggalkan kesakitan yang selalu terasa dan perih akan selalu ada tapi meringkih tak boleh terus terlihat seribu hujatan pastilah akan berseru menghakimi tanpa paham apa yang terjadi dan telinga hanya mampu mendengar tapi, jangan sampai membenarkan apa yang mereka hakimi anggap saja, semua hujatan, semua yang main hakim sendiri adalah obat yang membuat tubuh semakin kebal yang tahan tehadap virus yang tahan terhadap cuaca buruk yang kuat, meski banyak badai. Ia, anggap saja seperti obat.. #iFat | 22 April 2016

karena bahagia butuh perjuangan

Seseorang dengan terang-terangan keluar dari lingkungan biasanya yang penuh gemerlap. Dia bilang, dia bosan berada pada lorong yang sama, dengan orang-orang yang sama pula, pun dengan tempat yang seakan-akan terbatas hanya untuk bertemu dengan orang-orang yang sama tadi.   Arti kebahagiaan seseorang itu berada bukan pada garis yang sama, hal itu berada pada jalur-jalurnya sendiri. namun setiap orang, memelihara impiannya   masing-masing, memeluk harap dengan lengan yang melingkar erat. Yang jelas, kebahagian dari tiap insan, pastilah hasil dari perjuangan. Entah perjuangan yang singkat ataupun perjuangan yang menyayat hingga menguras waktu.   Untuk kesekian kalinya, aku menyebut bahwa kebahagiaan adalah perjuangan.   Aku, seseorang yang berusaha dengan tabah memelihara impian-impian, karena ada keyakinan dalam lubuk tersendiri, jika sebuah hasil takkan pernah menghianati proses. Aku gak yakin, seseorang dapat tersenyum bahagia tanpa ia rasakan apa itu de...