Catatan di awal Juli

Hai..

Sebelum aku menuliskan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang masih mau bertahan denganku, yang masih mau menemaniku hingga kini tanpa harus meminta apapun yang ku tak punya. Terima kasih masih mau berada di sampingku, dengan segala sikap dan sifat buruk yang aku punya. Sungguh, aku menyayangi kalian, orang-orang yang memahami aku dan tetap di sampingku saat aku dalam keadaan apapun.

Sebenarnya aku ingin menuliskan tentang keluh kesah, tentang segala ketakutan, tentang segalanya yang sedang aku rasakan. Tetapi kemudian aku berpikir, jika aku menuliskan itu lagi maka aku menyalahkan keadaan dan terlihat tidak pernah bersyukur. Sementara bercerita tentang keluh kesah sudah sering aku lakukan.

Jadi begini, kemarin aku baru mendengar bahwa novel yang berjudul “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” akan difilmkan. Aku kaget sekaligus kembali mengingat pesan-pesan yang aku dapatkan dari novel itu. salah satu pesan yang aku dapatkan yaitu, segala sesuatu yang terjadi di hidup kita selalu beralasan dan bertujuan, boleh jadi apa yang kita tidak suka adalah hal yang terbaik untuk kita. Selalu ada pembelajaran kehidupan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi masa lalu.

Kemudian otakku dipenuhi dengan berbagai hal yang sebenarnya sulit aku jelaskan. Beberapa omongan orang terngiang-ngiang dalam pikiranku. Salah satu di antaranya yaitu tentang ikhlas dan bersyukur. Itu omongan dari orang yang terkadang menjadi tempat aku bercerita tentang keluh kesah. Selalu saja omongan terakhirnya yaitu cobalah untuk ikhlas dan bersyukur. Entahlah,, bagiku omongan itu menenangkan.

Aku sedang memikirkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diriku adalah untuk tujuan yang baik dan karena alasan yang baik pula. mengapa dulu aku pernah merasakan kehilangan, mengapa aku di lahirkan dalam keluarga yang seperti ini, mengapa aku berada di lingkungan yang seperti ini, mengapa aku dipertemukan dengan teman-teman yang masih mau bertahan dengan aku sekarang, mengapa aku merantau, mengapa aku kuliah, mengapa aku memilih kesibukan yang seperti ini, mengapa aku sampai sekarang masih belum menemukan jodoh, dan pertanyaan- pertanyaan mengapa yang slalu saja bertambah setiap harinya di kepalaku.

Jika ada yang menanyakan apakah aku sudah menemukan jawaban di beberapa pertanyaan yang aku miliki, maka jawabannya adalah aku sudah menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan di hidupku. Namun, aku pun tak mampu untuk menjelaskan jawabannya, aku hanya merasakan apabila hal itu tidak terjadi padaku, maka aku tidak akan seperti ini, tidak akan mengenal kata berusaha.

Aku bukan mengidentifikasikan diriku bahwa aku sudah sepenuhnya menjadi pribadi yang baik, sungguh aku tidak memikirkan hal yang demikian. Jujur saja, aku adalah pribadi yang sering menanyakan mengapa hal ini terjadi padaku, mengapa harus aku. tetapi kembali lagi, aku menuliskan ini untuk meyakinkan diriku bahwa segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan dan tujuan.

Aku percaya, bahwa segala sesuatu yang belum aku dapatkan adalah untuk memberiku kesempatan supaya aku bisa memperbaiki diriku. Dan aku sekarang memahami bahwa segala keberhasilan dan pencapaian seseorang karena ia telah melewati segala macam kesedihan dalam hidupnya. Sungguh, kita tidak pernah tahu hidup seseorang sepenuhnya, dan kita tidak pernah tahu gejolak apa saja yang dirasakan di lubuk hatinya yang terdalam. Yang semata-mata, hanya wilayah Allah sang Kuasa.

Bicara mengenai hati, akupun tak tahu siapa yang akan melabuhkan hatinya kepadaku. Tentang mengapa sampai saat ini pertanyaan mengapa aku belum menemukan jodoh hingga sampai membuat orang-orang bertanya padaku. Aku menyadari sesuatu bahwa aku masih harus memperbaiki diri, supaya tidak kekanak-kanakan lagi, supaya tidak sombong lagi, supaya lebih ramah, supaya menjadi lebih dewasa, supaya tidak malas-malasan, supaya memahami potensi diri, intinya supaya aku nantinya siap menerima sosok lain dalam hidupku. Aku juga sadar, bahwa aku masih punya banyak mimpi dan pencapaian-pencapaian lain dalam hidup yang harus aku dapatkan terlebih dahulu. Jadi mulai sekarang, berhentilah menanyakan kapan kita bertemu jodoh. Alangkah baiknya kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu dan coba ingat kembali apakah masih ada mimpi- mimpi dan segala pencapaian yang belum didapatkan. Tak usahlah menanyakan kapan akan menyusul saat hadir di sebuah pernikahan, karena pada dasarnya zona waktu orang itu berbeda- beda. Berhentilah memaksakan kehendak Tuhan. Kelak jika saatnya, pasti akan dipertemukan. Jika kalian percaya, aku juga merasakan hal yang demikian. Merasa ketakutan. Di saat teman- teman seumuranku sudah mengarungi bahtera rumah tangga, aku masih belum menemukan sang nahkoda yang akan menjalankan bahtera bersamaku. Aku menuliskan tentang ini, juga untuk memberikan kekuatan pada diriku bahwa Tuhan telah menciptakan orang berpasang-pasangan. Aku tidak perlu khawatir bukan?

Teruntuk teman-teman yang masih mau bertahan denganku. Kini aku menyadari sesuatu, hadirnya kalian adalah untuk menemaniku, menemani aku untuk meraih mimpi-mimpiku, hingga menemani kesedihanku. Juga untuk menasehatiku dan memberikan pelajaran dalam hidupku. Aku bersyukur pada Allah telah mengirimkan kalian. Semoga kalian tetap sehat dan bahagia, aku menyayangi kalian tanpa kalian harus dengar itu, percayalah.

Segala kesakitan, segala kesedihan, segala tantangan dan perjuangan. Percayalah bahwa semua itu adalah cara Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang terbaik. Tuhan terlalu romantis dalam menyayangi kita. Itu sebabnya, kita harus lebih peka, supaya bisa membalas keromantisan- Nya. Selalu ada alasan dan tujuan dari segala peristiwa yang terjadi di hari lalu maupun hari sekarang, dan mungkin hari yang akan datang kita akan menyadari itu. berdoalah, supaya Tuhan membersamai kita selalu.

1 Juli 2018
Tegal
Fatimah dan setoples kacang goreng yang menemani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah

gak selalu sama.. (cerpen)