gak selalu sama.. (cerpen)
“aku pinjem buku kamu dulu yah, ngembaliinnya nanti,” kataku
pada ardhan, namun ardhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian pergi
berlalu. Singkat sekali pertemuan ku dengannya siang itu. aku urungkan untuk
memutar balik motor ku sebelum ku lihat punggungnya hilang dalam pandanganku.
Aku pun kembali ke rumah..
*****
Kemudian ingatanku memutar kejadian setahun
lalu, saat aku melewati tempat yang pernah aku dan ardhan bertemu. Selalu saja,
bayang-bayang itu hadir. Dan bodohnya lagi, aku memilih selalu melewati jalan
dimana akan menemui tempat itu, untuk menuju ke kampusku
Memang, ardhan adalah temanku. Ia
sebenarnya baik, meskipun ia selalu menutup dengan sifat kerasnya. Dan aku,
telah lama menyimpan rasa untuk nya.
Namun kini, sudah beberapa bulan
terakhir, aku hilang kontak dengan dia. Bukan
hanya karena kita beda kampus ataupun tak pernah ketemu. Tapi entah
kenapa, tiba-tiba ia menghilang. Aku tau sebenarnya dia punya alasan mengapa ia
menghilang. Aku pun tau, dia tak sejahat itu memutus komunikasi diantara
pertemanannya. Kini hidupku, harus tetap berjalan meski tanpanya. Tanpa ia,
yang pernah menjadi semangatku. Semangat yang kini hilang. Biar rasa itu tetap
bertahan, hingga ada yang mampu untuk menggantikannya.
Ku teruskan melaju dengan motor maticku
menuju kampus
*****
“dorr!!” kejut adit, teman kampusku,
ketika ku tengah asyik membaca buku di taman kampus.
“aduhh, aditt. Ngagetin ajah sih
kamu,” kataku sembari menggeser tasku
karena adit ingin duduk.
“yaelah nay, gitu ajah kaget.”
Senyum khasnya adit slalu tak pernah tertinggal.
Aku kembali diam, buku yang kupinjam kali ini
benar-benar menarik perhatian ku dibanding harus bercanda dengan orang gila
disampingku ini, adit. Ia teman kampusku, satu fakultas, pun satu jurusan
denganku. Memang ia gila dengan sikapnya, tapi dengan hadirnya dia kadang
memberi semangat saat aku sedang ngerasa benar-benar butuh pundak untuk
menangis.
“nay!!” adit kembali berteriak.
“apaan sih?” teriakanku tak kalah
keras dengannya
“ngobrol kali,, jangan buku terus
yang dibaca. Ini ada orang loh disamping kamu.”
“yaelah, kamu kalau mau ngobrol,
ngobrol ajah. Nanti aku dengerin, sekalian baca buku!”
“tau ah.. males aku jadinya.”
Adit tampak kesal. Akhirnya ia mengeluarkan
kamera dari tasnyaa, melihat-lihat hasil jepretan untuk tugas mata kuliahnya.
Aku pun kembali melanjutkan
membaca.
“cekrek!” suara bidikan kamera
adit terdengar di telingaku ketika ia tiba-tiba mengambil gambarku.
“aditt!!. Kamu bisa diem gak sih
kalo duduk disini!!” aku semakin kesal dengan tingkahnya.
“yahh,marah lagi. Maaf deh,
yaudah lanjutin bacanya.” Kali ini adit benar-benar serius menatap kameranya,
nampaknya ia sedang memilih-milih gambar untuk poster iklan tugas mata
kuliahnya, yang aku sendiri pun baru setengah menyelesaikan tugas itu.
Aku memperhatikannya, beberapa
saat ia tampak serius. Tak lagi menggangguku.
Setahuku, di kampus ini, selain
kelas yang membuat adit tampak serius, ialah tempat ini. taman belakang kampus
dengan kursi panjangnya.. aku pun mungkin ikut nyaman berada di tempat ini.
karena awalnya adit sering sekali satu tim untuk tugas kuliah. Dan disini lah,
adit dan tim ku ngerjain tugasnya.
“adit, aku mau tanya deh sama
kamu?” tanyaku memberanikan diri
“tanya ajah.” Adit masih
memperhatikan kameranya.
“kenapa sih, suka banget sama
tempat ini? gak bosen apah, nemuin hal-hal yang sama, orang-orang yang sama ?”
“kata siapa selalu sama?” adit
malah melayangkan pertanyaan untukku.
“adit,, kan aku nanya. Kenapa
kamu tanya balik?” aku semakin geram
“kamu kadang sok tau yah nay.
Siapa bilang orang-orang yang melintas disini itu orang yang sama. Tiap saatnya
itu beda-beda, gak slalu sama. Bahkan, kupu-kupu yang hadir tiap paginya untuk
bunga yang bermekaran disinipun, berbeda-beda. Gak slalu sama nay!” jelasnya
“tapi kan, ditempat ini juga?”
kataku bertahan dengan rasa keingintahuanku
“tapi belum tentu aku ngabisin
waktu disini dengan orang yang sama setiap harinya, belum tentu juga aku natap
orang-orang yang sama dari sini, iya kan?”
“iya sih, yaudah. Masuk kelas
yuk, udah mau jam 2 nih.” Kataku melirik jam tangan casio yang melingkar di tangan
kiriku, pemberian dari adit juga
beberapa bulan yang lalu ketika ku ulang tahun ke 19.
*****
Suatu senja sore di hari itu tampak indah sekali, kuputuskan untuk
menghabiskan waktu senjaku di pantai, yang memang tidak terlalu jauh dari
kampus. Menikmati semburan sinar orange dari matahari yang hampir tenggelam,
menikmati suasananya, dan menikmati air pantainya. Jika adit punya taman di
belakang kampus, maka aku punya gubuk kecil dekat pantai. Ia, aku menyukai
suasana seperti ini, di tempat ini pula.
Kali ini aku mengingat ia, ia
yang jauh kota denganku, ia pun yang semakin jauh dari hidupku. Aku menemukan
kembali, foto terbarunya ia lewat social media. Kini ia semakin hebat,, “ahh,
betapa tak pantasnya aku masih menyimpan rasa untuk orang sehebat ia.” Pikirku
kemudian. Tak terasa angin pantai juga ikut mendatangkan air mataku. Ia riuh
membasahi pipiku.
Sikap keras dan cueknya ia lebih
bisa aku terima, daripada putus komunikasi seperti ini. dalam hati kecilku
selalu berteriak, tak apa bila ia tak membalas rasaku, aku hanya ingin terus
berteman dengannya, selalu ada saat ia merasa butuh pertolonganku. Seperti yang
pernah aku katakan, ketika ia telah menolongku. Saat itupun aku sudah berjanji
pada diriku untuk selalu ada untuknya..
Rasa itu masih ada, sekalipun aku
mencoba mencari penggantinya. Aku gak tau, kenapa hatinya seolah-olah rumah
untukku. tempat aku kembali.meskipun aku juga tau, bahwa kini ia sudah
melabuhkan hatinya, dan itu bukan padaju. “ardhan, aku masih menyayangimu,” ucapan yang
seringkali terbisik dalam hatiku.
Tapi, kali ini, tahun ini aku
harus benar-benar melupakan rasa itu, ada target yang harus aku capai terlebih
dahulu. Aku gak mau, kosentrasiku hilang hanya untuk menangisi rasa yang
menyakitkan.
“mau es kelapa mba?” suara tiba-tiba
terdengar disampingku. Aku pun melirik. Ahhh, ternyata manusia gila ini lagi
datang. Adit,,
“gila kamu yah dit. Udah kaya jin
ajah, ada dimana-mana!” kataku sambil menghapus airmata yang nyatanya tak bisa
ku tahan untuk jatuh.
“kamu kenapa nay? Kamu abis
nangis yah?” tanyanya so perhatian
“gak papa. Oh ya, tadi kamu
nawarin es kelapa kan. Mana es kelapanya?” aku mencari-cari alasan. Supaya adit
tak perlu lagi membahas mengapa aku menangis.
“oh iyah lupa. Nih, buat kamu
ajah. tadi ngertinya kamu lagi gak ada disini.” Adit menawarkan es kelapa nya
yang tampak belum adit sruput satu sedot pun.
“gak papa nih?”
“Ya gak papa lah.oh yah, Suasana sore di pantai enak yah. Bisa buat
ngegalau.” Adit seolah tau, bahwa aku pun sedang memanfaatkan suasana ini untuk
ngegalau. Adit duduk disampingku sembari mengalihkan pandangannya ke hamparan
laut lepas.
“hmm, emang kamu lagi galau yah?”
“gak tuh. Kayanya, orang yang
disamping aku yang lagi galau! Matanya merah, so so an nyebar senyum. Padahal
hatinya nangis!” adit melempar sindirannya.
“hii, apaan sih kamu dit!”
tanganku mencubit adit
“aww, sakit tau!”
“makanya, jangan nyindir gitu.”
“yee, kesindir. Berarti benar
kan, kamu lagi galau?”
“tau ah!”
“yaudah-yaudah. Aku gak maksa
kamu untuk cerita ko.” Adit kemudian diam. Kadang-kadang adit itu jadi orang
yang aneh. Tiba-tiba gengges alias ngeganggu bin ngeselin, tapi kadang ia jadi
diam, dan jadi orang yang hangat banget.
“kamu suka senja dit?” tanya ku
tiba-tiba
“hha, senja? Gak suka sih, Cuma
nyaman!”
“apa bedanya sih, tinggal bilang
suka ajah ko repot!”
“terserah dong, setiap orang
punya opini sendiri-sendiri kan?”
“Iya, iya.. hmm, benar kata kamu
dit. Senja itu nyaman untuk dinikmati. Aku bahkan tak pernah bosan menikmati
senja di pantai ini, sekaligus di gubuk ini.” pandanganku jauh menatap deburan
ombak yang berkejaran.
Adit tiba-tiba menatapku, ia
mendapatiku berkaca-kaca dengan pernyataanku yang tadi.
“jadi setiap sore, kamu kesini?
Cuma untuk nikmatin senja? Untuk apa nay, angin sore di pantai tak terlalu baik
untuk kesehatanmu. Apalagi kau terus datang ke sini tiap sorenya?” adit panjang
lebar menasehatiku.
“untuk menyamarkan kenyataan dit.
Terlalu sakit dengan kenyataan yang harus ku terima. Lagian, baru beberapa
minggu yang lalu, aku mulai terbiasa menikmati senja disini ko.” Aku tak sadar
telah membuka topik untuk bercerita tentang masalahku.
“Menyamarkan kenyataan apa nay?
Kamu udah cukup berhasil di kuliahmu. Lalu apa?”
“kenyataan, bahwa
keangan-kenangan yang pernah aku lewati di pantai ini, bahkan digubuk ini.
takkan pernah terulang kembali.”
“siapa dia nay?”
Air mataku menetes, ku biarkan ia
terjatuh. Mungkin, tangis bisa meredakan semuanya. Ku benarkan rambutku yang
mulai tersapu angin sore.
“ dia orang yang aku kagumi. Aku
mencintainya, detik yang lalu, dan detik-detik selanjutnya yang tak
terdefinisi. Aku kesini, Cuma buat
semangatin diri aku sendiri, bahwa aku pernah punya kenangan bersamanya, pernah
menghabiskan waktu bersamanya, meski singkat. Dan tempat ini, kenangan itu
terjadi, “ tangisku tak bisa ku tahan lagi.
Adit membiarkan bahunya untuk aku
bersender, menangis mengingat semua tentang ia. Adit begitu hangat saat
itu,bahu adit benar-benar menjadi penghibur tersendiri untukku.
“lalu dia dimana sekarang nay?”
tanya adit lagi
“dia ada di tempat yang tak bisa
ku rengkuh.”
“meninggal?” tanya adit pelan,
takut menyinggung perasaanku lagi
“masih hidup, hanya saja ia
memilih ruang yang bukan aku,”
“Lalu…. Untuk apa kamu masih menyusun kembali kenangan tentangnya???
Bukankah itu hanya buang-buang waktu, karena kenyataannya kamu sudah tak bisa merengkuhnya??
Aku
bangun dari bahu adit. Takut, baju adit basah oleh air mataku.
“Untuk menyamarkan kenyataan dit.
Terlalu sakit jika aku hidup dalam kenyataan yang sebenarnya. Aku tahu ini
memang tak bisa diubah lagi. Aku tak sanggup bertahan dengan keadaan yang
begini adanya. Dengan begitu aku bisa merasa lebih baik,” aku semakin tak bisa
menahan tangisku. Adit yang melihatku seperti itu tak tega. Akhirnya, bahunya
dia relakan untuk aku menangis.
Aku gak
tau, kenapa adit begitu hangat. Selau ada disaat aku merasa butuh. Andaikan
saja, ardhan itu adit. Betapa aku tak akan pernah menangis seperti ini.
“nay,
kamu orang hebat. Bentar lagi kamu akan lulus. Katanya, kamu mau cari beasiswa
ke luar negeri. Itu tandanya kamu harus belajar lebih fokus. Bukankah kamu
pernah cerita ke aku, kalau kamu punya pikiran atau masalah. Pasti bisa
mengganggu prestasi kamu kan?.” Adit menasehatiku dengan bijaknya. Sosok yang
bahunya sedang aku sandari ini, ini orang yang baik. Jauh daripada ardhan.
Lagi-lagi aku berpikiran, andai saja ardhan itu adit.
Adit
melepas bahunya untuk ku sandari dan memegang bahuku.
“nay,
kamu itu orang hebat. Maka tuhan tidak akan mengijinkan orang yang salah jadi
teman hidupmu. Lupain apapun yang
membuat kamu sakit, kejar semua mimpi-mimpi kamu dulu. Jangan nangis lagi, aku
mohon!” adit menatapku kasihan.
Aku masih sesenggukan dengan tangisanku.memang
benar semua perkataan adit, aku tak harus selalu begini. Ada impian-impian aku
yang terus menunggu untuk segera dicapai. Ku hapus air mataku, dan ku tegakkan
badanku.
“aku
bukan cewe lemah! Aku cewe yang hebat! Iya kan dit?” aku berusaha menguatkan diriku
sendiri.
“lah itu
tau. Yaudah, mulai sekarang aku akan mbimbing kamu supaya gak ingat-ingat dia
lagi. Kan kita punya impian besar yang sama. Dan kamu janji untuk ngewujudin
bareng-bareng.Jadi jurnalis di kampus terkenal di Wina, Eropa. Iya kan?”
Ahh,adit.
Aku saja hampir lupa bahwa aku berjanji itu dengan kamu.
“kamu
pasti lupa kan? Mulai sekarang aku akan ngebangkitin semangat kamu untuk
teruskan mimpi kita.” Adit selalu tersenyum ketika memberi nasehat untukku.
betapa dia orang yang begitu baik.
“iya dit.
Makasih, yah!” aku mencoba menampilkan senyum termanisku
“makasih
buat apa? Lagian aku belum ngelakuin apa-apa deh?”
“makasih
buat semuanya. Makasih udah jadi teman aku yang paling baik. Makasih udah
selalu ngertiin aku. Dan makasih, karena selalu ada ketika aku butuh bahu untuk
bersandar. Thanks for everything.” Aku kembali tersenyum
“gitu
dong senyum. Kan lebih manis,” adit mengalihkan pembicaraan. Seolah-olah tak
mau membalas ucapan terima kasih dariku.
“yaudah,
udah mau gelap nih. Pulang yuk!” ajak adit
Aku dan
adit akhirnya memutuskan untuk pulang. Kami menyusuri pantai untuk menuju
parkir sepeda motor yang letaknya cukup jauh dari gubuk kecil tadi.
“oh yah
dit. Aku minta satu permintaan boleh?” tanyaku kemudian.
“apaan?
Bilang ajah, tapi kalau aku bisa ngabulin yah.”
“hmm.
Temani aku berjuang yah ngeraih semua mimpi-mimpiku.” Aku menatap tajam adit,
kemudian berlalu mendahului adit. Terasa sedikit malu mengungkapkan
permintaanku tadi.
Kulihat
adit tersenyum, dan terdiam ketika mendengar permintaanku dengan tatapan penuh
harap pada adit. Kemudia ia kembali mengejarku dengan larian kecilnya, ia
mendapatiku, dan tersenyum menggandeng tanganku. Ah, sepertinya aku tau
maksudnya. Dia mau mengabulkan permintaanku..
Kami
tertawa bersama dipinggir pantai, adit yang memulai menceritakan hal-hal lucu
untuk menghiburku agar tak sedih lagi. Dalam tawanya aku berbisik, “kamu benar
dit, kita mungkin menghabiskan waktu di tempat yang tak sama. tapi orang yang
bersama kita di tempat itu, mungkin saja berbeda. Seperti saat ini, kali ini
bukan ardhan di samping aku. Tapi kamu!! Gak selalu ardhan, gak selalu sama.”
Ifat|
diselesaikan tanggal 24 desember 2015
Komentar
Posting Komentar