Meski dianggap kisah klasik

Disaat sepi datang menghantui
Hadirmu tawarkan obat merah untuk sembuhkan luka yang sempat memar
Kita menyatu dalam sebuah cerita tentang hobi
Tentang apa yang kita suka, dan tentang apa yang sedang kita jalani
Kau membuatku bahagia, itu intinya
Teringat pada satu hari,,,
Saat kau duduk di meja terujung perpustakaan.
Aku pun tak tau, makhluk ghaib apa yang berlindung di tubuhku hingga ia ingin mampir ke tempat tersunyi di sekolah.
Meski sebelumnya kau asyik dengan bacaan ilmiah mu, dan aku asyik dengan bacaan humaniora ku
Tiba-tiba saja, kita beradu dalam debat, kemudian  saling menasehati..
Ya seperti itu...
Aku bahagia akan hal - hal sederhana yang kita lakukan bersama
Aku ingat, bahwa saat itu adalah berangkat di akhir minggu, pun hari bebas. Karena akan ada ujian tertulis yang akan kita jalani.
Andai saja, perpustakaan tak akan ditutup
Mungkin kita sudah panjang lebar dengan cerita dan nasehat.
Yang salah satu nasehat yang kau layangkan
"intinya nanti kalo udah disana, jangan tergoda sama ucapannya yang halus. Awas ajah kamu"

Ahh, haruskah aku perlihatkan bahagia ku?

Di satu hari lagi
Kau slalu ingin aku menemanimu saat kau ragu akan impianmu
Tentang impianmu, yang kini sudah kau dapatkan.. 

Menyentuh wajahmu, menatapmu begitu dekat.
Ah, senangnya...  :)

Saat bersamamu, bahkan mereka yang melihat bisa iri.
Aku gak tau kenapa mereka begitu..
Meski katanya, yang terjadi diantara kita adalah kisah klasik layaknya persahabatan wanita dan pria
Tapi kita bahagia menjalani ini
Tak mengapa, meski hanya dianggap kisah klasik

Jumat 08/07/2016 8.05 AM | iFat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah

gak selalu sama.. (cerpen)

Catatan di awal Juli