Kisah hari ini

Hari ini, Senin 29 Agustus. Aku memutuskan untuk ke daerah Parangtritis, tepatnya di desa Sempalan, untuk mencari belas kasih saudaraku akan biaya kosan yang sudah mulai ditagih, sementara danaku sudah  menipis, apalagi untuk cadangan makanku untuk beberapa minggu ke depan.
Aku berangkat dari kosanku, di daerah Samirono, dekat rektorat kampus yang dulu bernama IKIP. Dari halte dekat rektorat, aku naik bus trans Yogyakarta, yang 2B arah stasiun Giwangan. Tak ada yang istimewa, hanya duduk dan diam, cuma ngerasa betapa beraninya aku. Perempuan seorang diri, belum paham jalan pula. Lalu bus 2B transit di smp 5 yogya, dilanjutkan naik bus 4A mengarah ke stasiun Giwangan. Pun tak ada yang istimewa di dalam bus ini.. Cukup lama di bus itu.

Setelah sampai di stasiun, lain lagi ceritanya. Disini tanya" supir, bis yang arah parangtritis. Sampai akhirnya nemu, dan aku penmpang pertamanya. Ahh,,pasti akan lama nunggu.

Benar juga dugaanku, hingga jam 1 lebih bus yang aku tunggu baru berangkat. Pun masih 2 penumpang.
Di perjalanan, satu persatu penumpang hadir. Aku yang sambil minum madu sachet kesukaanku, tak menghiraukan para penumpang baru yang naik. Namun, di suatu titik. Ada penumpang pelajar yang tampaknya setingkat SMA, masuk 3 orang. Awalnya tak ada yang aneh, namun ketika salah satu diantaranya duduk disampingku. Aku paham apa yang menjadikan mereka beda dari yang lain. Mereka tuna wicara. Degg... Aku melirik papan nama tempat di belakang. Ahh. Tempat tadi saat mereka naik, itu SLB. Aku menangkap mereka berbicara dengan bahasanya.. Mereka tersenyum bahagia dengan isyaratnya. Meski aku tak tau apa maksudnya, aku yakin mereka sedang bercerita kisah yang seru. Dari tawanya, dari bersih kulitnya. Terlebih lagi ketika seorang mirip bule. Entah itu bule tulen atau gak, aku gak tau. Yang jelas ia cantik meski di umurnya yang sudah membawa anak kecil yang juga ganteng.

Mereka bertiga semakin tertawa, mungkin penumpang baru tadi telah menjadi topik pembicaraannya kini.

Beberapa penumpang baru, datang dengan bawaannya. Beberapa diantaranya orang yang sudah senja. Aku menawarkan tempat dudukku untuknya, namun ia menolak dengan halus. Katanya, sebentar lagi ia turun. Ahh,, baiknya :)

Perjalanan masih lama, aku masih bingung harus turun dimana. Aku pun bertanya dengan ibu-ibu yang juga sudah berumur. Katanya, daerah yang ku tuju masih jauh. Ia juga menawarkan, kalau sudah di daerah yang kutuju, ia akan bilang padaku.
Baiknya. ... Bisikku..

Setelah sampai di tujuanku. Aku berterima kasih dengan ibu tadi.
Aku bukan langsung ke rumah tujuanku. Tapi harus berjalan sekitar 400 meteran. Di perjalanan,, seorang ibu berpakaian dinas dan tebakanku ia seorang guru. Menawarkan boncengan padaku."mau kemana mba, ayo sareng," katanya seperti itu. Awalnya aku ingin menolak, tapi rasanya tidak enak hati..
Tebakanku benar, ia seorang guru. Ia menghantarkanku ke rumah saudaraku. Aku sangat berterima kasih dengannya.

Perjalanan kali ini penuh kisah. Penuh makna didalamnya. Dimana aku harus bersyukur dan tetap bahagia dengan kekurangan. Mau membantu sesama, meski dengan orang tak kenal sekalipun. Terima kasih ya Allah. Terima kasihh...

Ifat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah

gak selalu sama.. (cerpen)

Catatan di awal Juli