Angka 19

26 November 2016. Aku pikir akan berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Memasuki usia 19 tahun di kota kelahiran orang, aku pikir tidak ada yang spesial. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ada beberapa kejadian di hari itu. tanggal 26 November 2016, ternyata bertepatan juga dengan acara wisudha kampus. Dan mba kos ku ada yang wisudha, pagi itu aku menata hijabnya sebagai wisudawan, aku mempelajari beberapa tutorial hijab di channel youtube. Sungguh, ada kebanggan sendiri ketika aku menata hijab seorang wisudawan.
Hari itu juga, aku ada study lapangan ke museum Sonobuduyo dan keraton Yogyakarta. Kunjungan ke tempat baru, pikirku. Meski aku sudah pernah ke Keraton Yogyakarta, tapi kali ini lain, bersama dengan teman-teman kampus dan memakai almamater biru sebagai pengenal. Di museum Sonobudoyo, aku baru pertama kali mengunjunginya. Di tempat ini  Kami mendapat guide, sehingga bisa menjelaskan apa saja yang ada di dalam museum itu. kali itu aku benar-benar mendengarkan, mungkin karena memang ada tugas untuk melaporkan hasil kunjungan, dan aku tak mau tertinggal dari apa yang guide jelaskan.
Pemberangkatan pertama ke Museum Sonobudoyo, kemudian dilanjutkan ke Kraton. Di Kraton, rombongan Kami sudah ditinggalkan oleh dosen pembimbing, jadi tidak memakai guide. Sehingga kita bukannya belajar, malah banyak selfinya. Terlebih karena laporan kunjungan itu hanya meliputi Museum Sonobudoyo. Di kraton, kami asyik membuat maniquen chalange, biar kekinian dong :D
Pulang dari kunjugan lapangan. Aku langsung diajak ke acara wisudha mba kos. Acara wisudha kampusku itu berada di GOR kampus. Sungguh, jika sedang ada acara seperti itu, jalaan macet, banyak yang menjual bunga. Rombongan kos pun membeli bunga untuk menyenangkan mba kos yang wisudha. Nunggu beberapa menit, kemudian mba kos keluar dari GOR, kami berfoto ria. Ah senangnya aku, di tanggal ultahku, ternyata banyak orang bahagia karena telah diwisudha.
Malamnya, untuk satu waktu yang ini aku hanya ingin berterima kasih pada mba-mba kos yang memberi kejutan sekaligus membuatku sedih lagi karena bbm ku dibajak dan membuat pesan yang membuat aku dan temanku sedikit bertengkar. Dan aku sangat berterima kasih pada suara di  kota asalku sana yang menelponku dan menyampaikan kata “aamiin” untuk segala doa ku. Katanya biar berbeda, kamu saja yang menyampaikan doa, dan aku mengaminkan semuanya. Terima kasih 20 menit 48 detiknya. Terima kasih juga pada suara di luar kota sana yang menyempatkan menelpon meski kedudukan sebagai wakil ketua menguasai jadwalnya, terima kasih 20 menit 50 detiknya. Terima kasih juga untuk teman-teman yang mengucapkan ulang tahun dan doa lewat sosial media apapun. Terima kasih. Aku beruntung mengenal kalian.

Untuk keluargaku. Mama, bapak, dan kakakku. Menurutku, tak cukuplah kata terima kasih ketika mereka semua yang mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali, dan selalu mendoakanku dimanapun aku berada. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi diriku sendiri.

Aku yang kecil yang banyak dosa.
Aku yang belum mendewasa
Aku yang rapuh
Semoga bertambahnya umurku, menjadikan aku lebih baik dari sebelumnya. Aamiin ….


Yogyakarta, 6 December 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYINGKAP MAKNA DUNIA PADA CERPEN “MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA” KARYA AGUS NOOR Oleh Siti Fatimah

gak selalu sama.. (cerpen)

Catatan di awal Juli