Hari Pertama Pelatihan Tutor BIPA
Keberangkatan aku ke Yogyakarta lebih cepat, selain untuk membantu panitia PAB UKM Penelitian, juga untuk menghadiri pelatihan tutor BIPA. Alhamdulillah aku terpilih menjadi salah satu tutor BIPA di UNY, yang dipegang oleh KUIK (Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan), salah satu mimpi yang pernah aku inginkan. Aku tidak menyangka itu bisa terwujud, meski belum sepenuhnya bertuggas, setidaknya posisi sebagai tutor bipa sudah aku dapatkan. Untuk mendapatkan posisi ini sebelumnya aku mengikuti seleksi. Mulai dari seleksi administrasi, cross culture understanding, micro teaching sampe buat rancangan pembelajaran, dan wawancara. Aku juga mengambil kosentrasi BIPA di jurusan kuliahku, sehingga saat seleksi ada sedikit kemudahan.
Dari keberangkatan aku ke Yogyakarta hingga pelatihan hari ini berjarak duapuluhan hari. Aku berangkat ke Yogyakarta kalau gak salah tanggal 9 Juli. Oke langsung saja yah ke topik yang ingin aku bicarakan.
Pelatihan BIPA pada tanggal 30 Juli dimulai tanggal 8 pagi, tepatnya tadi pagi sebelum masuk ke pelatihan, aku mau menceritakan sedikit kisah di hari kemarin. Hari kemarin aku haid hari pertama, dan itu sakit banget, ditambah hari itu makanan yang aku makan semuanya pedas, sedangkan perutku langsung sakit sehabis mengonsumsi makanan pedas. Malam harinya aku terbangun jam 12 dan jam 4 pagi hanya untuk buang air besar, dan saat itu hanya cairan yang keluar. Aku gak bohong, kalau itu sakit dan badanku lemes banget, tidurku pun jadi gak lelap. Hal itulah yang menyebabkan aku lemas banget pas mau berangkat pelatihan. Aku waktu itu berencana untuk minum obat, tetapi setelah melihat tempat nasi, ternyata nasinya habis, apabila aku masuk lagi akan makan banyak waktu, sehingga aku memutuskan untuk tidak minum obat. Perutku hanya ku kasih aromateapi dan minyak kayu putih.
Aku berangkat ke tempat pelatihan dengan jalan kaki. Aku berjalan pelan, karena sungguh perutku sakit banget. Setelah sampai di sana, ternyata belum banyak orang yang datang. Beberapa menit kemudian setelah sudah hampir penuh, acara dimulai. Acara dibuka oleh Bu Diyah yang termasuk salah satu orang KUIK yang mengurusi BIPA. Materi pertama disampaikan oleh Mbak Vero, dia menyampaikan tentang SOP (Standar Operasional Prosedur). Aku suka cara penyampaiannya Mbak Vero. Selain penampilannya yang menarik, cara penyajiannya pun menyenangkan, santai tapi bisa dimengerti. Mbak Vero juga termasuk mantan tutor BIPA dulu saat masih kuliah. Dia
sekarang menjadi dosen BIPA di UNY juga menjadi pengajar bahasa Indonesia di GDU (Guangdong University) di Tiongkok. Dia masih muda dan enerjik. Materi kedua disampaikan oleh Mas Umar. Sejujurnya aku pernah melihat dia di kegiatan masjid dekat kosanku. Dia sering mengisi acara di situ, sehingga aku tidak asing dengan mukanya. Dia masih muda, berpenampilan menarik, dan punya kemampuan bicara yang bagus. Cara penyampainnya pun menyenangkan. Sama seperti mbak Vero, dia juga menyelipkan candaan saat menyampaikan materi. Materi yang disampaikan mas Umar yaitu tentang menyimak dan berbicara, tak heran dengan kemampuan bicaranya yang luar biasa. Mas Umar tuh pembawaannya santai banget, bahkan dia juga ngopi saat sedang menyampaikan materinya. Ya begitulah, jiwa mudanya masih begitu melekat. Para tutor pun mencoba salah satu pembelajaran yang dilakukan oleh mas umar. Seru… selanjutnya yaitu materi tentang membaca dan menulis. Materi itu disampaikan oleh mbak Sumaryani. Mbak sumaryani sangat bagus dalam penguasaan materi, karena ternyata dia memang dosen bahasa Indonesia di luar negeri, tapi aku lupa di mana. Dan kepulangan dia ke Indonesia, adalah untuk liburan. Okee, jadi tingkatannya berbeda denganku. Aku pengin liburan ke luar negeri, malah dia Liburan ke Indonesia. Mbak Sumaryani cara menyampaikan materinya hampir sama dengan dosen, walau para tutor memanggilnya dengan mbak. Tetapi tadi para tutor di kasih sebuah materi oleh beliau. Dan kami para tutor disuruh untuk menyajikan materi itu dengan cara yang beragam. Pada saat memikirkan itu, para tutor seolah-olah mendapat pendampingan. Karena mba sumaryani kelilin dar satu kelompok ke kelompok lain. Kami para tutor jadi lebih mengerti apa yang harus disampaikan dan pembenaran dari kesalahan yang tadi kami sebutkan.
Oke setelah diberi tiga materi, akhirnya waktu ishoma datang. Yang bikin aku senang ternyata kami diberi makan siang. sudah taulah kalau anak kos paling suka diberi gratisan. Tadi pagi sekitar jam jam 10 an pun diberi snack yang akhirnya membuat perutku lumayan tidak sakit.
Materi dilanjutkan oleh Bu Ari Kus. Dia itu salah satu dosen di fakultasku. Dia memang dosen BIPA yang sudah melalangbuana. Kepada dialah kami para tutornya memanggil ibu. Cara menyampaiakan materinya keras, seperti dosen-dosen pada umumnya. Tetapi bentuk pelatihannya hampir sama dengan mba Sumaryani. Hingga akhirnya kami para tutor diberikan pembenaran dan pelajaran yang seharusnya dilakukan oleh para tutor.
Setelah semua dosen BIPA telah selesai memberikan materinya, tibalah saat para tutor lama menampilkan cara mengajar mereka. ada Mba Rara, mba mutiara, mas harry, mas ghozali. Saya sudah sering melihat wajah-wajah itu. tetapi saya tetap antusias kalau ada contoh pembelajaran bipa secara langsung. Materi yang disampaikan oleh tutor lama yaitu mengenai makanan tradisional Indonesia. Bagus sekali menurutku, terlebih diselipkan dengan praktik ke pasar dan membeli langsung (ceritanya sih gitu). Bahasa yang digunakan pun sederhana sehingga tidak bocor kata. Terjaga sekali.
Waktu menunjukkan hampir pukul 4 sore, tiba di akhir acara. Ternyata kami para tutor diberi penugasan untuk esok hari. Penugasannya yaitu mikrotutorial. Oh my God, disaat yang lain masih libur, ko aku udah nugas yah?? Yasudahlah, jalani saja. Hardwork forever pays.
Pulang pelatihan aku jalan kaki lagi. Tasku lumayan berat karena ada snack dan minuman yang diberikan di akhir acara tadi. Terasa melelahkan, hingga aku langsung tiduran sesampainya di kos.
Aku jadi berpikir. Mungkin ini alasan mengapa aku tak kunjung mencari kerjaan sampingan, padahal aku menginginkannya. Mungkin karena fisikku tidak mampu dan aku tidak punya kendaraan untuk mobilisasi kegiatanku. Mungkin aku harus bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Aku juga diingatkan untuk fokus ke tutor BIPA. Barangkali memang inilah rezeki yang tepat untukku. barangkali dengan menjadi tutor BIPA, Allah menunjukkan kerjaan yang luar biasa bermanfaat dan memberikan pengaruh yang baik untukku. tugasku hanya menerima, berusaha, dan terus kerja keras. Selebihnya biar Allah yang menentukan. aku pernah dengar kalau rezeki dan kematian itu sama, sama-sama mengejar kita sekalipun kita menjauhinya. Semoga semangatku menjadi tutor BIPA akan tetap sama seperti awal mula aku mendaftar. Doakan aku supaya diberi kesehatan selalu dan terus semangat dan ikhlas apapun yang aku kerjakan.
Okee… inilah cerita aku di hari pertama latihan. (asli gak jelas banget). Yaudah yah ini ajah, aku ajah belum mikir untuk penugasan besok. (Tiba-tiba perut sakit lagi) _-. Terima kasihh.. sampai bertemu di pelatihan BIPA kedua…. See you
Yogyakarta,
30 Juli 2018
Komentar
Posting Komentar